'Kartini' dan 'Kartono' Menyoal Feminisme Hari Kartini
Anak-anak perempuannya tak lagi mengindahkan kata-katanya. Dengan dalih demokrasi dan kebebasan perempuan, anak-anaknya menolak menutup aurat.
Bahkan sang ayah bisa diajukan ke komisi perlindungan anak dengan tuduhan pemaksaan dan pemerkosaan hak berekspresi. Hingga taraf pindah agama alias murtad, wewenang sang ayah tak lagi berguna. UU perlindungan anak akan sigap melindungi siapa pun yang berstatus anak untuk menjadi murtad. Nah, lho? Ciloko, !!
Belum lagi para pria yang jomblo yang semakin merana. Mereka harus mulai mencari solusi karena ternyata gerakan feminisme radikal telah sebegitu dalam menanamkan kebencian terhadap makhluk berjenis laki-laki. Dampaknya adalah perempuan ini tak mau lagi menikah dengan laki-laki dan memilih sesama perempuan sebagai gantinya alias mempraktikkan lesbian. Na’udzubillah min dzalik.
Selain penyakit AIDS, menurunnya tingkat kelahiran menjadi satu masalah tersendiri bagi dunia.
Hingga tak heran bila di negara seperti Italia, ada insentif menggiurkan untuk mereka yang mau punya anak. Jadilah, bank sperma laris manis tanpa perlu menikah dengan laki-laki. Nasab sang anak jadi kacau beliau eh, balau. Laki-laki pun harus merana karena defisitnya perempuan untuk dinikahi. Seperti pernyataan seorang penulis perempuan yang karyanya melulu pada tema esek-esek bahwa ‘pernikahan adalah ibarat hukum permintaan dan penawaran. Dan saya tidak menikah untuk mengurangi penawaran di pasar.’ Duile, sebegitunya si Mbak ini cinta pada Kapitalisme (atau justru tertipu?). Sampe-sampe penikahan pun ia ibaratkan dan perlakukan ibarat orang jual beli di pasar.
Selasa, 17 April 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
we do it

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satu harus mengalah.
sakura in love






0 komentar:
Posting Komentar